BBM dan Gas Melon di Serawai – Ambalau Tetap Tersedia Meski Lambat
- calendar_month Sab, 28 Mar 2026
- comment 0 komentar

Rudy Andryas, Anggota DPRD Sintang
LensaKalbar – Pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan LPG 3 kilogram ke wilayah Serawai dan Ambalau, Kabupaten Sintang, dipastikan tetap berjalan di tengah musim kemarau. Namun, distribusinya tidak lagi secepat biasanya akibat perubahan jalur pengiriman yang kini lebih banyak mengandalkan jalur darat.
Anggota DPRD Sintang, Rudy Andryas, mengungkapkan bahwa suplai energi ke dua kecamatan tersebut masih terus masuk, meski mengalami keterlambatan signifikan. Kondisi ini dipicu menyusutnya debit air sungai yang selama ini menjadi jalur utama distribusi.
“BBM dan LPG memang masih masuk ke Serawai dan Ambalau, tapi cukup lambat karena situasi kemarau. Angkutan banyak lewat jalur darat,” ujar Rudy Andryas, Jumat (27/3/2026).
Perubahan pola distribusi ini berdampak langsung pada harga di tingkat pengecer. Keterbatasan kapasitas angkut dan waktu tempuh yang lebih lama membuat biaya distribusi meningkat, sehingga harga BBM di lapangan ikut terdongkrak.
Meski demikian, masyarakat dinilai masih bisa memahami kondisi tersebut selama pasokan tetap tersedia.
“Harga di pengecer memang lumayan tinggi, tapi masyarakat bisa memahami. Yang penting BBM dan LPG tetap ada,” kata Rudy Andryas.
Rudy Andryas menjelaskan, selama musim kemarau, jalur sungai yang biasanya menjadi tulang punggung distribusi tidak dapat diandalkan sepenuhnya. Air yang surut membuat kapal besar kesulitan melintas, sehingga distribusi harus dialihkan menggunakan moda transportasi lain.
Jalur darat menjadi alternatif, namun opsi ini juga tidak tanpa kendala. Selain kapasitas angkut yang terbatas, kondisi infrastruktur jalan di sejumlah titik turut mempengaruhi kecepatan pengiriman.
“Keterbatasan jalur sungai saat kemarau membuat distribusi harus dialihkan. Jalur darat jadi pilihan, tapi memang ada keterbatasan dari sisi kapasitas dan waktu tempuh,” ungkap Rudy Andryas.
Tak hanya BBM, kondisi serupa juga terjadi pada distribusi LPG 3 kilogram atau yang dikenal sebagai gas melon. Pasokan tetap tersedia, tetapi waktu pengiriman menjadi lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
“Gas melon tetap masuk, hanya saja sampainya agak lambat kalau musim kemarau seperti ini,” ungkap legislator Partai NasDem tersebut.
Untuk menjangkau wilayah kecamatan hingga desa, distribusi dilakukan secara kombinasi dengan memanfaatkan berbagai jalur yang tersedia. Sungai tetap digunakan dengan perahu kecil atau speed boat untuk menjangkau daerah yang tidak bisa diakses kendaraan darat.
Sementara itu, jalur darat tetap dioptimalkan ketika memungkinkan. “Kalau ke Serawai Ambalau, biasanya pakai perahu kecil atau speed. Kalau sulit, jalur darat dipaksakan supaya bisa sampai,” jelas Rudy Andryas.
Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, Rudy Andryas memastikan bahwa kebutuhan energi masyarakat masih terpenuhi. Ia menilai kondisi ini merupakan tantangan musiman yang harus dihadapi bersama, terutama di wilayah dengan ketergantungan tinggi pada jalur sungai.
“Kami berharap ke depan ada solusi yang lebih efektif agar distribusi tidak lagi terlalu bergantung pada satu jalur. Perbaikan infrastruktur serta strategi distribusi yang lebih adaptif dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan, khususnya saat musim kemarau,” pungkas Rudy Andryas, wakil rayat dari daerah pemilihan (Dapil) Kecamatan Serawai dan Kecamatan Ambalau. (Dex)
- Penulis: Zainuddin

Saat ini belum ada komentar