Kopi Kojal Tembus Pasar Global dengan Nilai Rp1,7 Miliar
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar

LensaKalbar – Kopi Liberika asal Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, kembali mencuri perhatian dunia. UMKM Kopi Kojal berhasil mempertahankan posisinya sebagai salah satu dari 20 kopi terbaik Indonesia binaan Bank Indonesia dan membawa pulang Letter of Intent (LoI) dari buyer dalam dan luar negeri dengan potensi transaksi mencapai 84.875 dolar AS atau setara Rp1,4 hingga Rp1,7 miliar per tahun.
Prestasi membanggakan itu diraih dalam ajang World of Coffee Bangkok 2026 yang digelar di BITEC Bangkok, Thailand, pada 7–9 Mei 2026. Dalam pameran kopi terbesar di Asia tersebut, Kopi Liberika Kayong Utara menjadi salah satu produk yang paling banyak diminati pengunjung dan pelaku industri kopi global.
Owner UMKM Kopi Kojal, Gusti Iwan Darmawan, mengatakan buyer dari Singapura, Dubai, Thailand, dan Swedia menyatakan minat serius untuk membeli Kopi Liberika Kayong Utara Grade 1 dengan harga 35 dolar AS per kilogram atau sekitar Rp595 ribu per kilogram. Minat serupa juga datang dari pelaku industri kopi nasional seperti Anomali Coffee, Tanamera Coffee, Espresso Embassy Coffee Roaster, dan Akasa Coffee Bali.
“Antusiasme pasar sangat tinggi. Banyak pihak menilai karakter rasa Liberika Kayong Utara sangat unik dan lebih menyenangkan dibanding kopi Liberika dari negara lain,” kata Gusti Iwan.
Keberhasilan tersebut tidak datang secara instan. Pada program Kurasi Kopi Indonesia 2026 yang diselenggarakan Bank Indonesia, sampel Kopi Liberika Kayong Utara memperoleh skor cupping 85,58 dengan karakter rasa frizzy, grape, dan molasses. Nilai ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yang mencatat skor 84,42 untuk proses semi wash dan 83,50 untuk natural dry.
Pencapaian itu menjadikan Kopi Kojal sebagai satu-satunya UMKM dari Kalimantan dengan nilai tertinggi dan berhasil menyingkirkan peserta dari seluruh wilayah Kalimantan.
Tak hanya mencatat nilai tertinggi, Kopi Liberika Kayong Utara juga menuai pujian dari peserta pameran asal Malaysia dan Filipina, dua negara yang dikenal sebagai penghasil kopi Liberika. Mereka mengakui cita rasa kopi asal Kayong Utara lebih unggul dan tertarik mempelajari protokol pascapanen yang dikembangkan UMKM Kopi Kojal.
Bahkan, salah seorang pengunjung dari Filipina berencana mengundang Gusti Iwan untuk memberikan pelatihan dan berbagi pengetahuan mengenai pengolahan kopi Liberika.
Saat ini, areal kopi Liberika binaan Kopi Kojal di Desa Podorukun, Kecamatan Seponti, tersisa sekitar 7 hektare dengan total sekitar 4.900 pohon produktif. Dari luasan tersebut, potensi produksi mencapai 14,7 ton green bean per tahun, dengan sekitar 4,41 ton di antaranya masuk kategori Grade 1 premium.
Gusti Iwan menegaskan, capaian ini merupakan hasil riset mandiri yang dilakukan sejak 2019 hingga 2025 untuk menghasilkan protokol pascapanen yang mampu menciptakan karakter cita rasa Liberika yang khas dan kompetitif di pasar internasional.
Setelah sukses di Bangkok, UMKM Kopi Kojal kini membidik ajang World of Coffee Tokyo 2027 di Jepang. Bersama kelompok tani binaan di Kayong Utara dan Kabupaten Melawi, mereka bersiap meningkatkan kualitas produksi agar Kopi Liberika Kalimantan Barat terus bertahan di jajaran kopi terbaik Indonesia.
“Ini bukan hanya tentang Kopi Kojal, tetapi tentang bagaimana kopi Liberika Kayong Utara dan Kalimantan Barat bisa dikenal dan dihargai di pasar dunia,” tegas Gusti Iwan. (LK1)
- Penulis: Zainuddin

Saat ini belum ada komentar