
LensaKalbar – Ketika berkunjung di Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat, Rabu (7/11/2018) lalu. Bupati Sintang, Jarot Winarno menawarkan kepada Pemerintah Cirebon untuk pemenuhan bahan baku rotan yang disuplai langsung dari Kabupaten Sintang.
Berawal dari informasi tersebut, Selasa (27/11/2018). Pemerintah Kabupaten Cirebon melakukan kunjungan kerjanya di Kabupaten Sintang. Tujuanya, ingin menjajaki sejauh mana potensi bahan baku rotan yang dimiliki Kabupaten Sintang.
Seperti diketahui, kebutuhan bahan baku rotan di Cirebon hingga saat ini tidak kurang dari 140.000 ton pertahun. “Sejauh ini kita di suplai bahan baku dari Sulawesi dan Sumatera,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Cirebon, Deni Agustin, saat berada di Kabupaten Sintang.
Kunjungannya ke Kabupaten Sintang, kata Deni, tidak lain untuk membangun hubungan kerjasama kepada Pemerintah Kabupaten Sintang. “Pertama kami ingin membangun silaturahmi. Kedepanya kami berharap Sintang dan Cirebon saling mendukung seperti yang disampaikan oleh Bupati Sintang beberapa waktu lalu ketika berkunjung ke Kabupaten Cirebon, bahwa Sintang memiliki potensi bahan baku rotan. Tetapi nilai ekonominya cukup kecil dan pemanfaatannya belum besar,” ungkapnya.

Deni mengatakan Cirebon merupakan sentral industri terbesar di Indonesia. Bahkan di dunia. Buktinya, tercatat 274 perusahaan ekspor furniture rotan berdiri di Kabupaten Cirebon. Sementara perusahaan kecil penghasil kerjaninan rotan ada 1.300 perusahaan di Cirebon.
“Perusahaan yang berdiri di Cirebon 90 persennya melakukan ekspor di berbagai negara bagian besar seperti, Eropa Timur, Amerika, Eropa Tengah, dan negara lainya. 10 persennya untuk memenuhi kebutuhan lokal,” katanya.
Beberapa bulan terkahir ini, kata Deni, furniture berbahan baku rotan sedang membaik di Cirebon. Banyak permintaan atau order dari buyer luar negeri. Sayangnya, permintaan tersebut tidak bisa dipenuhi semua. Karena pihaknya terkendala ketersediaan bahan baku rotan yang masih kurang.
“Potensi ekspor kita keluar negeri seharusnya dapat menghasilkan 8 juta dollar. Tetapi kita hanya mampu memenuhi 2 juta dollar. Artinya, ada 6 juta dollar potensi eskpor yang masih menggantung. Itu disebabkan karena kita kekurangan bahan baku rotan,” ungkap Deni.
Mekihat kondisi tersebut, Deni berharap adanya terjalin kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Sintang dan Kabupaten Cirebon terkait bahan baku rotan.
“Ya, kalau kita ada kerjasama. Setidaknya Sintang sebagai penghasil bahan baku rotan dan Cirebon sebagai penghasil industri furniture berbahan baku rotan yang hasil produksinya di ekspor di berbagai negara besar di dunia,” harapnya.

Terpisah, Bupati Sintang, Jarot Winarno mengatakan bahwa Selasa (27/11/2018) terjadi dua Memorandum of Understanding (MoU). Pertama MoU antara Pemerintah Kabupaten Sintang dan Pemerintah Kabupaten Cirebon. Kedua, antara para pelaku bisnis.
“Ini kerjasama yang saling menguntungkan,” kata Bupati Jarot.
Menurutnya, potensi bahan baku rotan dan kabupaten lainya di Provinsi Kalbar diniliai mencukupi untuk mensuplai ke Cirebon. Untuk di Sintang potensi bahan baku rotan tersebar di 14 kecamatan. Tetapi yang menjadi konsentrasi Pemerintah Sintang dan memiliki bahan baku rotan terbanyak ada di Kecamatan Ambalau, Serawai, Kayan Hulu, dan Kelam Permai.
“Nantinya, pelaku bisnis di Sintang dibina dan difasilitasi oleh Pemkab Sintang dan KPH Dinas Kehutanan Provinsi Kalbar dalam mensupplai bahan baku rotan olahan pada pelaku bisnis dan eksportir industri rotan di Cirebon,” katanya.
Kedepannya, orang nomor satu di Bumi Senentang itupun berharap kepada Pemkab dan pelaku bisnis industri rotan Cirebon melakukan transfer teknologi dan ketrampilan pada pengrajin rotan di Kabupaten Sintang. (Dex)