LensaKalbar – Pemerintah Pusat (Pempus) memfokuskan pembangunan infrastruktur pendidikan dan kebudayaan di wilayah Tertinggal, Terluar, dan Terisolir (3T). Kabupaten Sintang termasuk di dalamnya.
Bupati Sintang, Jarot Winarno mengungkapkan, kendala pendidikan di wilayah 3T tersebut di antaranya infrastruktur dasar yang belum merata, khususnya di wilayah pedalaman Sintang, serta sumber pendanaan yang masih tergolong minim.
“Contoh, pembangunan rumah dinas guru, dulu tidak boleh menggunakan DAK (Dana Alokasi Khusus). Tetapi tahun ini, DAK ada membangun rumah guru. Bagaimana guru mau betah kalau fasilitas rumahnya seperti itu kan. Nah tahun ini sudah mulai, jumlah pastinya belum cukup. Tahun depan kita tingkatkan lagi,” kata Jarot, usai Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), di halaman Kantor Bupati Sintang, Rabu (2/5).
Untuk meningkatkan pendidikan dan kebudayaan di wilayah pedalaman Kabupaten Sintang, kata Jarot, persoalan infrastruktur yang pertama harus dibenahi. Kemudian proses belajar mengajar di perbatasan dan pemberian reward.
“Pemda selalu membuka beasiswa seperti Kedokteran, Sekolah Pertanian, dan Sekolah Tinggi Transportasi Darat. Kita prioritaskan untuk anak-anak pedalaman. Belum lagi masuk TNI dan Polri. Itu bentuk reward yang kita berikan,” jelas Jarot.
Kemudian, tambah Jarot, betapa pentingnya faktor budaya tumbuh. Kalau budaya tumbuh subur di berbagai tempat di tanah air ini, pasti tumbuh subur pendidikan yang kuat.
“Jadi peran dari kebudayaan berkaitan dengan disahkannya UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Kemajuan Kebudayaan. Adanya korelasi antara pembanguan infrastruktur yang selama ini diselenggarakan pemerintah dengan membentuk konektifitas sabuk pendidikan dan kebudayaan di Nusantara,” papar Jarot.
Jadi, jelas Jarot, tujuan pembangunan rumah guru, sekolah, jalan-jalan, bendungan-bendungan, pada akhirnya akan membentuk sabuk pendidikan dan kebudayaan di tanah air.
Namun sangat disayangkan, hingga kini belum seluruhnya terpenuhi, lantaran perioritas mendatang, pembangunan infrastruktur pendidikan terfokus pada wilayah 3T.
“Pak menteri juga mengidentifikasi ada dua permasalahan internal dan eksternal dalam memajukan pendidikan dan kebudayaan. Internalnya, moralitas tergerus dan rendahnya literasi,” ucap Jarot.
Sehingga, dilakukannya gerakan literasi secara Nasional. Kemudian pendidikan karakter menjadi kata kunci untuk melawan moralitas.
“Kemudian ada masalah eksternal, yakni majunya teknologi, tenaga orang diganti dengan tenaga mesin. Jadi kita jajaran dinas tidak boleh ketinggalan zaman,” tegas Jarot.
Cara-cara lama, lanjut Jarot, ditinggalkan dan diganti dengan cara baru yang kira-kira bisa menghasilkan input dan output kekinian, serta dapat melawan revolusi industri for zero.
“Intinya mengganti tenaga manusia dengan tenaga mesin ini mesti kita lawan. Biar bagaimanapun, tenaga manusia terampil dengan kecepatan dan ketepatan tetap hidup. Barang hidup mana pernah kalah dengan barang yang mati,” tambah Jarot.
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sintang, Lindra Azmar mengatakan, Peringatan Hardiknas 2 Mei ini bertemakan
“Menguatkan Pendidikan dan Memajukan Kebudayaan”.
“Kami Dinas Pendidikan bertekad menguatkan fasilitas pendidikan dengan kekuatan yang memadai. Memajukan kebudayaan juga sangat penting, karena kebudayaan adalah alat pemersatu bangsa,” tutup Lindra. (Dex)