Beranda Ekonomi Harga Sembako Meroket, Jangan Dijadikan Tradisi Tahunan

Harga Sembako Meroket, Jangan Dijadikan Tradisi Tahunan

Wakil Ketua DPRD Sintang, Terry Ibrahim.

LensaKalbar – Setiap kali menjelang dan sepanjang bulan Ramadhan kita selalu melihat, menyaksikan dan mendengar bahwa harga-harga barang, terlebih barang sembako, naik dari biasanya. Kenaikan ini malah berdampak juga pada orang-orang yang sama sekali tidak bersentuhan dengan bulan ramadan.

Rumusan pasar mengenai permintaan yang lebih besar dari pada persediaan barang kerap menjadi alasannya.

Realitas naiknya harga kebutuhan pokok ini seakan menjadi tradisi. Dari tradisi ini lahirlah tradisi lain seperti mengeluh. Umumnya kaum emak-emak yang sering bersentuhan dengan tradisi keluhan ini.

Walau persoalan tersebut kerap terjadi setiap tahun serta penanganan pemerintah juga terbilang sama, yaitu dengan akan dilakukannya operasi pasar serta bazar pasar murah, akrobatik harga tetap saja terjadi di hari-hari besar nasional.

Olehkarenanya, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sintang, Terry Ibrahim meminta kepada intansi terkait agar intens melakukan pengecekan harga di lapangan, sehingga dapat meminimalisir segala bentuk kecurangan dan permainan yang dilakukan pelaku usaha.

Dengan kondisi ekonomi begitu sulit saat ini, Terry menilai apa yang dikeluhkan kaum emak-emak mengenai harga sembako merupakan hal yang lumrah.

“Wajar kalau emak-emak teriak harga sembako naik. Sudah lah ekonomi sulit, malah dipersulit lagi. Naik harga boleh, tapi sewajarnya saja, jangan mereka (pedagang,red) jadi aji mumpung atau dijadikan tradisi tahunan,”¬† pinta Politisi Partai Nasional Demokrat ini, Kamis (9/5/2019).

Legislator daerah pemilihan (Dapil) Sintang 2 inipun mengaku bingung. Pasalnya kenaikan harga sembako selalu terjadi setiap menjelang hari besar keagamaan. Tidak hanya Ramadhan dan Idul Fitri saja. Tapi Natal dan Tahun Baru pun kondisinya sama, terjadi kenaikan harga.

Seharusnya, pemerintah melalui intansi terkait dapat menekan sejumlah harga sembako di pasaran agar tidak mengalami kenaikan yang signifikan. Caranya dengan intens melakukan pengecekan dan turun ke lapangan.

Langkah itupun dinilainya akan lebih efektif, sehingga tidak ada permainan yang dilakukan pelaku usaha terhadap konsumennya. “Jangan ada permainan harga. Karena stok sembako kita saat ini dikatakan mencukupi. Kalau ada sengaja mempermainkan harga, saya minta intansi terkait menindak tegas oknum pelaku usaha tersebut,” tegasnya.

Seperti diketahui, H-1 memasuki bulan Ramadhan, harga sembako di Pasar Tradisional Masuka, Kecamatan Sintang mengalami lonjakan yang siginifikan. Salah satunya, bawang putih dan bawang merah tembus Rp40 ribu perkilonya. Sebelumnya hanya berkisar Rp.28 ribu hingga Rp32.500,- perkilonnya.

Begitu juga harga telur ayam, daging ayam, dan berbagai jenis sayuran lainnya. Telur sebelumnya hanya Rp1.600,- perbutir. Sekarang sudah Rp1.800,- perbutirnya. Daging ayam, sebelumnya hanya Rp35 ribu, sekarang mencapai Rp40 hingga 45 ribu.

Tampak drastis mengalami kenaikan harga juga terlihat pada sayuran. Jika sebelum datangnya  Ramadhan, harga sayur sawi hanya berkisar Rp6 ribu perkilonya. Sekarang tembus di harga Rp15 ribu perkilonya. Sama dengan terong sebelumnya hanya Rp8 ribu perkilo, sekarang tembus Rp15 hingga 18 ribu perkilonya. (Dex)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here